Translate

Senin, 04 Juni 2012

PERMASALAHAN ANAK SEKOLAH DASAR

A.  DEFINISI MASALAH
Banyak ahli mengemukakan pengertian dari masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidak sesuaian antara harapan dan kenyatan, ada yang melihatnya sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartiakannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, dan ingin atau perlu dihilangkan.
Kriteria masalah menurut pandangan anak
1.        Masalah terjadi karena belum bisa memahami diri sendiri antara potensi dan harapan.
2.        Masalah terjadi karena tidak dapat mengatasi sendiri
3.        Membutuhkan bantuan orang lain.

  B.  PERMASALAHAN ANAK SD
1.    Permasalahan Fisik Anak Usia SD
Terdapat beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran anak sekolah dasar, yaitu :
a.         Obesity
Kegemukan yang terjadi pada usia 6 – 11 tahun merupakan isu utama yang terjadi pada usia sekolah dasar. Penyebab kegemukan tersebut disebabkan karena kelebihan berat badan sebagai akibat dari kurangnya berolahraga dan terlalu banyak makan. Tetapi masalah ini dapat diantisipasi oleh orang tua dengan cara diubah cara makannya, latihan olahraga secara teratur. Obesitas ini mengakibatkan gangguan pada kesehatan seperti jantung dan sesak nafas, kurangnya percaya diri dan berkurangnya kelincahan. 
b.        Kondisi medis
Pada umumnya semua anak sering mendapat sakit, namun penyakit tersebut berlangsung singkat. Dalam masa sekolah selama 6 tahun dapat disimpulkan pada umumnya anak – anak mendapat sakit yang akut dalam waktu singkat dengan berbagai kondisi medis, biasanya kena virus atau flu, dan migrant (sakit kepala).
c.         Penglihatan
Pada anak usia sekolah, penglihatan lebih tajam daripada waktu – waktu sebelumnya. Anak yang berusia di bawah 6 tahun cenderung memiliki penglihatan jarak jauh, sebab mata mereka belum matang (matured) dan dibentuk secara berbeda daripada orang dewasa. Namun setelah usia tersebut, maka mereka bukan hanya lebih matang, tetapi juga dapat menfokuskan penglihatan lebih baik.
d.        Kesehatan gigi
Pada usia 6 tahun anak mengalami tanggal giginya yang pertama kali, yang selanjutnya diganti dengan gigi yang tetap setiap tahun sebanyak empat gigi untuk tahun kelima berikutnya.
e.         Kebugaran anak
Latihan fisik sangat dibutuhkan bagi anak – anak untuk kebugaran tubuhnya. Latihan anak serta dapat menjaga bentuk jasmaninya.
f.         Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya; bawaan dari lahir, kecelakaan, akibat dari penyakit yang diderita dll.
g.        Kidal
kidal merupaka gangguan fisik berupa kelainan yang terjadi pada bagian ogan tubuh tertentu dalam pemfungsian organ tubuh yang tidak wajar semisal menulis dengan tangan kiri. Ada beberapa penyebab dari kidal ini, antara lain factor bawahan dari lahir dan factor pembisaan yang salah. Akibat dari kidal ini adalah merasa kurang percaya diri karena diangap tidak wajar.
h.        Kekurangan berat badan atau Gizi
Sama halnya dengan obesitas, kekurangan berat badan ataupun gizi ini juga menyebabkan gangguan fisik pada anak. Penyebab dari kurangnya berat badan bisa terjadi karena kekurangan asupan makana yang dibutuhkan anak pada saat perkembangan dan factor keturunan. Akibat dari kekurangan berat badan ini adalah merasa kurang percaya diri, mudah terserang penyakit.

2.    Permasalahan Psikis Anak Usia SD
a.       Permasalahan belajar anak
Beberapa jenis masalah belajar yang dihadapi anak SD antara lain :
1)      Keterlambatan Akademik
Keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi,  tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
2)      Sangat Lambat Belajar
Keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai.
3)      Penguasaan Materi yang lebih rendah dari yang dipersyaratkan.
4)      Off task behavior, merupakan bentuk perilaku yang muncul selama mengikuti proses pembelajaran tetapi tidak mendukung kegiatan belajar. Bentuknya adalah tidak semangat mengerjakan tugas di kelas, bicara sendiri selama mngikuti pelajaran, melanggar tata tertib sekolah, melamu ketika mengikuti kegiatan pembelajaran.
5)      Tidak ada motivasi.
6)      Defensive pessismism dilakukan gua melindungi citra diri dan harga diri, tetapi defensive pessismism dilakukan dengan mengembangkan standar yang rendah dalam tujuan yang hendak dicapai. Melalui pengembangan standar yang rendah, individu berharap ketika mengalami kegagalan tetap dapat diterima dan dimaklumi oleh lingkungan atas kegagalannya tersebut. Disamping tetap menjaga citra diri dihadapan oranglain bahwa kegagalan bukan dikarenakan ketidakmampuannya untuk belajar melainkan karena ia sendiri mengembangkan standar yang rendah terhadap prestasi yang hendak dicapainya.
7)      Tidak menguasai ketrampilan belajar (lack of learning skills). Seorang siswa idealnya memiliki kemampuan dan ketranpilan yang memadai untuk melakukan proses belajarnya. Ketrampilan yang dimaksud meliputi ketrampilan mengembangkan motivasi, mengelola kegiatan belajarnya, ketrampilan membaca, ketrampilan menulis, ketrampilan menghafal, mengorganisasikan pengetahuan, kemampuan metakognitif, ketrampilan mengelaborasi pengetahuan, dan ketrampilan memanfaatkan sumber daya lingkungan untuk kepentingan belajarnya.
8)      Gangguan ketrampilan motorik dikenal pula dengan sebutan ganguan koordinasi perkembangan. Anak yang menderita gangguan motorik mengalami gangguan yang parah dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak disebabkan oleh retardasi mental ataupun gangguan fisik yan lain. Anak tersebut mengalami kesulitan dalam mengikat tali sepatunya dan mengancing baju. Pada usia yang lebih besar mereka kesulitan untuk membuat suatu bangun, bermain bola, menggambar, dan menulis. Diagnose gangguan ketrampilan motorik ini ditegakkan apabila gangguan tersebut mengahmbat prestasi akademik dan berbagai aktivitas sehari – hari.
9)      Problem Kesulitan Menulis (Dysgraphia)
Tentunya disgraphya ini berbeda dengan tulisan tangan yang jelek. Tulisan tangan yang jelek biasanya tetap dapat terbaca oleh penulisnya, dan juga dilakukan dalam waktu yang relatif sama dengan yang menulis dengan bagus. Akan tetapi untuk dysgraphia, anak membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menulis.
Dalam menulis sesuatu kita membutuhkan penglihatan yang cukup jelas, keterampilan motorik halus, pengetahuan tentang bahasa dan ejaan, dan otak untuk mengkoordinasikan ide dengan mata dan tangan untuk menghasilkan tulisan. Jika salah satu elemen tersebut mengalami masalah maka menulis akan menjadi suatu pekerjaan yang sulit atau tidak mungkin dilakukan. 
10)  Discalculia. Anak yang mengalami problem dyscalculia merupakan anak yang memiliki masalah pada kemampuan menghitung. Anak tersebut tentunya belum tentu anak yang bodoh dalam hal yang lain, hanya saja ia mengalami masalah dengan kemampuan menghitungnya.
b.      Masalah emosional
1)      Kebrutalan atau kebringasan anak nampak pada perilakunya, mereka menunjukkan suatu perbuatan yang sering kali memerlukan bantuan orang lain. Misalnya, berkelahi, berbohong, mencuri, dan merusak. Bentuk – bentuk tindakan tersebut merupakan ekspresi yang keluar dari emosional yang terganggu. Sekalipun demikian pada umumnya anak – anak berusaha merubahnya dan menutupi perilaku mereka dengan mengemukakan alasan untuk dapat dipercaya oleh orang lain. Misal menutupi kebohongannya dengan maksud menghindari hukuman karena perbuatannya. Akan tetapi ketika anak telah berusia lebih dari 6 atau 7 tahun sekalipun mereka tetap membuat cerita yang bohong, mereka merasa sadar dan tidak aman perasaannya. Oleh karena itu dia membuat cerita yang muluk – muluk agar orang lain percaya kepadanya, dapat pula mereka lakukan berbuat bohong tersebut karena untuk menyenangkan orang tuanya.
2)      Attention-Devicite Hyperactivity Disorder (Hiperaktif)
Menurut Santrock, hiperaktif mempunyai cirri kelainan berupa suatu rentang perhatian yang pendek, perhatian mudah beralih, dan tingkat kegiatan fisik yang tinggi. Singkatnya, anak – anak ini tidak menaruh perhatian dan memiliki kesulitan memusatkan perhatian pada apa yang sedang dilakukannya.
Faktor penyebab dari hiperaktif meliputi
a)      Faktor keturunan
Faktor keturunan pada tempramen perlu diperhatikan, dengan tingkat aktifitas sebagai suatu aspek tempramen yang membedakan seorang anak dari anak lain dari perkembangan diri.
b)      Faktor kerusakan janin prakelahiran
Bahaya prakelahiran dapat juga menyebabkan perilaku hiperaktif, semisal minuman alcohol yang dikonsumsi secara berlebihan oleh perempuan selama hamil berkaitan dengan lemahnya perhatian dan pemusatan perhatian anak mereka pada usia 4 tahun
c)      Faktor makanan
Berkaitan dengan makanan, defisiensi vitamin dapat juga menyebabkan masalah – masalah pemusatan perhatian anak hiperaktif. Kekurangan vitamin B adalah faktor khusus. Konsumsi kafeein dan gula dapat juga menyebabkan sianak kurang dapat memusatkan perhatian.

3)      Permasalahan Stress Pada Anak
Stres adalah respon individu terhadap keadaan – keadaan dan peristiwa – peristiwa, yang disebut stressor yang mengancam dan mengurangi kemampuan mereka dalam menhadapi stress – stress tersebut.
Faktor – faktor kognitif didalam  stress, menurut Lazarus (dalam santrock 302) yakin bahwa stress anak – anak bergantung pada bagaimana mereka secara kognitif menilai dan menginterpretasikan peristiwa – peristiwa. Penilaian kognitif adalah istilah yang digunakan Lazarus untuk menjelaskan interpretasi individu atas peristiwa – peristiwa didalam hidup mereka sebagai sesuatu yang membahayakan, mengancam atau menentang (penilaian primer) dan faktor – faktor yang menentukan apakah mereka memiliki sarana dan kemampuan untuk dapat secara efektif menghadapai peristiwa itu (penilaian sekunder).
Salah satu penyebab dari stress yaitu peristiwa – peristiwa yang dialami dalam kehidupan seperti perceraian, kematian orang tua, percekcokan sehari – hari dan hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan stress yang luar biasa pada anak – anak dan keluarganya. kemiskinan berkaitan dengan peristiwa – peristiwa yang berbahaya dan tidak terkendalikan dalam kehidupan anak – anak. misalnya, anak miskin lebih banyak mengalami kejahatan dan kekerasan dibandingkan anak kelas menengah.
Pengaruh sosial budaya yang dapat menyebabkan stress pada anak adalah akulturasi. akulturasi mengacu pada perubahan kebudayaan yang berasal dari kontak langsung yang terus menerus antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda. stress akulturatif mengacu pada akibat akibat negative dari akulturasi.
Salah satu perisai pelindung yang pentingf bagi anak – anak untuk melawan stress adalah adanya suatu relasi dasar, yang saling percaya dan bersifat jangka panjang dengan sekurang – kurangnya satu orang dewasa. jaringan dukungan keluarga yang sudah ada juga penting.

c.       Permasalahan Sosial Anak
Perkembangan social merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan social. dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma – norma kelompok dan tradisi. Anak dilahirkan belum bersifat social dalam arti dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan social anak harus belajar tentang cara – cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang – orang dilingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya. Apabila perkembangan social tidak teralaksana secara baik maka akan mengakibatkan permasalahan social yang dihadapi oleh anak.
Macam – macam permasalahan social yang dihadapai anak usia dasar
1)      Pembangkangan
yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan. tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penereapan disiplin atau tuntuan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan anak.
2)      Agresi
yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (non verbal) maupun kata – kata (verbal). agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya) yang dialaminya. Agresi ini mewujud dalam perilaku menyerang seperti memukul, mencubuit, menendang, dan mencaci maki.
3)      Bertengkar
Bertengkar atau berselisih terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain.
4)      Persaingan
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain.


 DAFTAR PUSTAKA
 Amti, Erman. 1991. Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: DEPDIKBUD.

Furqon. 2005.  Konsep Dan Aplikasi Bimbingan Konseling Untuk Sekolah Dasar. Bandung: Pustaka Baniquraisy.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Suntrock, John W. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga

Yusuf, Syamsu LN. 2009. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Dewi,Ismira. 2008. Memahami Bentuk Kesulitan Belajar (Learning Disabilities). http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/ Diunduh pada 2 Oktober 2010.

Minggu, 03 Juni 2012

EVALUASI

A.    Pengertian Evaluasi
1.      Asal kata
Kata evaluasi berasal dari Bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran,
2.      Istilah
Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
3.      Dari aspek pelaksanaan
Evaluasi adalah keseluruhan kegiatan pengumpulan data dan informasi, pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai sampai dimanakah tujuan yang telah dirumuskan sudah dapat dilaksanakan.
Secara rinci dapat disampaikan :
a.       Evaluasi ialah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kababilitas siswa, guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar.
b.      Dalam rangka pengembangan sistem instruksional, evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah telah berjalan seperti yang telah direncanakan.
c.       Evaluasi sebagai suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada dijalan yang diharapkan.
d.      Evaluasi adalah suatu kegiatan yang direncanakan dengan cermat dan merupakan bagian yang integral dari kegiatan program/pendidikan.
e.       Evaluasi merupakan proses yang sistematis mulai dari menentukan tujuan (objektif) sampai menentukan keputusan, dimana prosesnya diawali dengan menentukan sasaran (objek) yang akan dievaluasi, menentukan instrumen (alat ukur), cara mengukur, mencatat data, menganalisis, menginterpretasi hasil analisis, mengambil kesimpulan dan menetapkan keputusan.
4.      Menurut Beberapa Ahli
a.       Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
b.      Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.
c.       Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining), penggambaran (delineating), penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives).
5.      Kesimpulan
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu proses kegiatan sistematis dalam mengumpulkan data-data atau informasi yang berguna dilakukan dalam rangka untuk untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
  
B.     Tujuan Evaluasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen.
Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program.

C.    Tingkat Evaluasi
1.     Pra Evaluasi, ada hubungan dengan pengarahan suatu proyek. Misalnya, perlu ada manajemen yang baik agar proyek/program dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana.
2.    Evaluasi Antara, adalah evaluasi pada pertengahan implementasi, yaitu evaluasi ketika program atau proyek sedang mengatasi masalah. Hasil ini dapat dipakai untuk memodifikasi perencanaan atau strategi program/proyek. Misal, merubah sifat input, memodifikasi model intervensi dan menggeser penekanan atau kelompok target.
3.    Evaluasi Akhir, adalah evaluasi ketika pembiayaan proyek tersebut berakhir. Evaluasi ini memberikan persepsi manfaat program dan dampak terhadap kegiatan. Rekomendasi ini adalah untuk memperbaiki perencanaan selanjutnya dan memiliki hubungan dengan kebijakan.

D.    Hakikat Evaluasi Program
Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program.
Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. Secara umum, program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Menilik pengertian secara khusus ini, maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Selain itu, sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya
Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut mereka, ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh, (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan program tersebut.
Berdasarkan pengertian diatas, maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Tetapi, pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker).

E.     Model-Model Evaluasi
Menurut Stephen Isaac dan Willian B. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu :
1.      Goal Oriented Evaluation
Dalam model ini, seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai.
2.      Decision Oriented Evaluation
Dalam model ini, evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context, Input, Process dan Product.
a.       Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan serta tujuan (goal).
b.      Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program.
c.       Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai, maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut.
d.      Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Dalam proses ini, evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan, dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan
3.      Transactional Evaluation
Dalam model ini, evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut.
4.      Evaluation Research
Sebagaimana disebutkan diatas, penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional.
5.      Goal Free Evaluation
Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program, dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya, baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif.
6.      Adversary Evaluation
Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Dalam prakteknya, model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu :
a.       Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan.
b.      Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur.
c.       Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen.
d.      Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan.
  
DAFTAR PUSTAKA
Lababa, Djunaidi. 2008. Evaluasi Program Sebuah Pengantar. Tersedia dalam http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-program-sebuah-pengantar.html diunduh pada 10 Maret 2011.
S, Wakhinuddin. 2009. Definisi Evaluasi. Tersedia dalam http://wakhinuddin.wordpress.com/2009/07/14/definisi-evaluasi/ diunduh pada 10 Maret 2011

METODE EVALUASI FORMATIF DAN SUMATIF

Michael Scrive mengembangkan model evaluasi formatif dan sumatif. model ini menunjukkan adanya tahapan dan lingkup objek yang dievaluasi, yaitu evaluasi yang dilakukan pada waktu program masih berjalan (evaluasi formatif) dan ketika program sudah selesai atau berakhir (evaluasi sumatif).
Model evaluasi formatif dan sumatif ketika melaksanakan evaluasi, evaluator tidak dapat melepaskan diri dari tujuan. Tujuan evaluasi formatif memang berbeda dengan tujuan evaluasi sumatif. Dengan demikian, model yang dikemukakan oleh Michael Scrive ini menunjukakan “apa, kapan, dan tujuan” evaluasi tersebut dilaksanakan.
Para evaluator pendidikan, termasuk guru-guru yang mempunyai tugas evaluasi, tentu sudah mengenal dengan baik apa yang dimaksud dengan evaluasi formatif dan sumatif. Hampir setiap bulan guru-guru melaksanakan evaluasi formatif dalam bentuk ulangan harian. Evaluasi tersebut dilaksanakan untuk mengetahui sampai berapa tinggi tingkat keberhasilan atau ketercapaian tujuan untuk masing-masing pokok bahasan. Dikarenakan luas atau sempitnya materi yang tercakup didalam pokok bahasan setiap mata pelajaran tidak sama, maka tidak dapat ditentukan dengan pasti kapan eveluasi formatif dilaksanakan dan berapa kali untuk masing-masing mata pelajaran.
A.    Evaluasi Formatif
Menurut Scriven (1991) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009), evaluasi formatif adalah suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan.
Yaitu evaluasi yang digunakan untuk mencari umpan balik guna memperbaiki proses belajar mengajar bagi guru maupun peserta didik. Evaluasi formatif secara prinsip merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan permulaan kegiatan. Misalnya, selama pengembangan program paket kurikulum, evaluais formatif akan melibatkan pemeriksaan konten oleh ahli, pilot tes terhadap sejumlah siswa, tes lapangan terhadap siswa yang lebih banyak dan dengan guru di beberapa sekolah, dan lain sebagainya. Pada evaluasi formatif, audiensinya personalia program, mereka yang bertanggung jawab atas pengembangan kurikulum. Evaluasi formatif harus mengarah kepada keputusan tentang perkembangan program termasuk perbaikan, revisi, dan semacamnya.
Evaluasi formatif (kadang-kadang disebut sebagai internal) adalah sebuah metode untuk menilai layak program sementara kegiatan program sedang membentuk (dalam proses). Ini bagian dari evaluasi berfokus pada proses.
Dengan demikian, evaluasi formatif pada dasarnya dilakukan dengan cepat. Mereka mengizinkan desainer, peserta didik, dan instruktur untuk memantau seberapa baik tujuan instruksional dan tujuan telah terpenuhi. Evaluasi Formatif juga berguna dalam menganalisis materi pembelajaran, dan prestasi belajar siswa, dan efektifitas guru Evaluasi Formatif terutama suatu proses pembangunan yang menumpuk serangkaian komponen bahan baru, keterampilan, dan masalah menjadi keseluruhan yang berarti utama. - Wally Guyot (1978)

a.       Tujuan Evaluasi Formatif
 1.    Evaluasi formatif adalah mengetahui sejauh mana program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan. Dengan diketahui hambatan dan hal-hal yang menyebabkan program tidak lancar, pengambilan keputusan secara dini dapat mengadakan perbaikan yang mendukung kelancaran pencapaian tujuan program.
2.    Untuk memastikan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan untuk melakukan perbaikan suatu produk atau program.

b.      Fungsi Evaluasi Formatif
1.      Sebagai balikan bagi siswa dan guru tentang kemajuan belajar.
2.      Untuk memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaikai proyek, kurikulum, atau lokakarya.

c.       Teknik Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif terdiri dari beragam bentuk. Menurut Martin Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) evaluasi formatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1.      Review ahli (expert review)
Evaluasi dimana ahli yang mengkaji ulang program layanan dengan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli bisa ahli materi, ahli teknis, perancang, atau instruktur. Evaluasi ini dilakukan terhadap program muatan layanan yang masih kasar atau masih dalam rancangan (draft) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahannya.
a)      Kelebihan dari review ahli adalah :
·         Review menghasilkan tipe informasi yang berbeda jika dibandingkan dengan informasi yang diperoleh dari evaluasi orang per orang, kelompok kecil, atau uji lapangan.
·         Kadang-kadang ahli yang dibutuhkan telah ada dan dibayar dengan murah.

b)      Sedangkan kelemahannya adalah :
·         Review ahli tidak memberikan pandangan atau pendapat dari sudut pandang siswa.
·         Review ahli membutuhkan biaya tinggi jika orang ahli harus didatangkan dari wilayah yang jauh.

c)      Informasi yang dapat digali dari pelaksanaan review ahli antara lain :
·         Informasi yang berkaitan dengan content (materi), seperti kelengkapan, akurasi, kepentingan, serta kedalaman.
·         Informasi yang berkaitan dengan disain instruksional, seperti kesesuain dengan karakteristik, dan tugas perkembangan siswa, kesesuaian antara tujuan-materi-evaluasi, ketepatan pemilihan media, dan ketertarikkan bagi siswa.
·         Informasi yang berkaitan dengan implementasi, seperti kemudahan penggunaan, kesesuaian dengan lingkungan belajar sebenarnya, kesesuaian dengan lingkungan.
·         Informasi kualitas teknis, seperti kualitas layout, grafis, audio, visual, dll.

2.      Evaluasi orang per orang (one-to-one evaluation)
Evaluasi ini dilakukan dengan wawancara yang dilakukan secara perorangan oleh evaluator terhadap beberapa siswa dimana secara satu persatu siswa diminta untuk memberikan komentarnya mengenai program layanan yang sedang dikembangkan. Selain itu siswa juga biasanya diminta untuk menyelesaikan pre dan post test untuk mengukur efektifitas program layanan.
Keuntungan dari evaluasi ini adalah evaluasi ini memberikan informasi dari sudut pandang siswa, serta evaluasi ini dapat dilakukan dengan mudah, cepat, murah, dan produktif.
Informasi yang dapat diperoleh dari evaluasi ini meliputi beberapa aspek, antara lain:
·         Materi (content)
Seperti tingkat kesulitan, kejelasan, kemenarikan, serta kekinian materi.
·         Disain instruksional
Seperti kejelasan tujuan, kelogisan sistematika penyampaian materi.
·         Implementasi
Seperti tingkat kesulitan penggunaan, tingkat kemudahan dana, kemungkinan kesulitan yang dihadapi.
·         Kualitas teknis
Seperti kualitas animasi, video, serta layout.
Menurut Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) untuk memilih subyek dalam evaluasi satu per satu, ada beberapa karakteristik yang bisa dijadikan patokan, yakni:
·         Pengetahuan siswa: meliputi seberapa jauh mereka dapat mengetahui tentang materi yang akan diberikan (pre test).
·         Kemampuan siswa: apakah siswa mempunyai kemampuan intelektual dan strategi yang menunjukkan bahwa dirinya sebagai siswa dapat belajar cepat atau lambat.
·         Minat siswa: meliputi apakah mereka akan menunjukkan motivasi yang kuat untuk mempelajari dan mereview program layanan yang sedang dikembangkan.
·         Keterwakilan siswa: seberapa jumlah siswa dari populasi yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan motivasi.
·         Kepribadian siswa: apakah cukup percaya diri dan terbuka untuk mengekspresikan kritiknya selama evaluasi.
3.      Evaluasi kelompok kecil (small group).
Evaluasi di mana evaluator mengujicobakan suatu program layanan pada suatu kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-komentarnya.
4.      Uji lapangan (field test)
Evaluasi di mana evaluator mengobservasi program layanan yang diujicobakan kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata. Evaluasi ini dilakukan terhadap suatu program layanan yang sudah selesai dikembangkan, tapi masih membutuhkan atau memungkinkan untuk direvisi akhir.
Salah satu kelebihan dari uji lapangan adalah bahwa dengan evaluasi ini akan diperoleh informasi apakah program layanan dengan menggunakan menggunakan metode tertentu akan benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Menurut Tessmer (1996) dalam diktat teori dan praktek evaluasi program bimbingan dan konseling (Aip Badrujaman, 2009) beberapa fokus penggalian informasi yang perlu dijadikan patokan dalam uji lapangan adalah :
·         Kemampuan untuk dilaksanakan
·         Kesinambungan
·         Efektifitas
·         Kecocokan dengan lingkungan
·         Digunakan dalam beberapa variasi lingkungan.
d.      Manfaat data penilaian hasil belajar formatif
Data hasil belajar formatif dapat diperoleh guru secara langsung pada akhir proses belajar mengajar berupa hasil skor pasca tes. data ini disamping menggambarkan penguasaan tujuan instruksi oleh para siswa, juga memberi petujuk kepada guru tentang keberhasilan dirinya dalam mengajar. oleh sebab itu data itu sangat bermanfaat bagi guru dalam upaya memperbaiki tindakan mengajar selanjutnya. dari kajian hasil penilaian ini guru dapat memetik mafaat dalam :
1)      memperbaiki program pengajaran atau suatu pelajaran dimasa mendatang terutama dalam merumuskan tujuan instruksional, organisasi bahan, kegiatan belajar mengajar, dan pertanyaan penilaian.
2)      meninjau kembali dan memperbaiki tindakan mengajarnya dalam memilih dan menggunakan metode mengajar, mengembangkan kegiatan belajar siswa, bimbingan belajar, tugas dan latihan para siswa, dll.
3)      mengulang kembali bahan pengajaran yang belum di kuasai oleh siswa sebelum melanjutkan dengan bahan baru, atau memberi penugasan kepada siswa untuk memperdalam bahan yag belum dikuasainya.
4)      melakukan diagnosis kesulitan belajar para siswa sehingga dapat di temukan faktor penyebab kegagalan siswa dalam menguasai tujuan instruksional.

B.     Evaluasi Sumatif.
Yaitu evaluasi yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai dimana pencapaian peserta didik terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan peserta didik yang bersagkutan. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberi informasi kepada konsumen yang potensial tentang manfaat atau kegunaan program. Misalnya, setelah paket kurikulum dikembangkan, evaluasi sumatif mungkin dilaksanakan untuk menentukan efektifitas paket tersebut pada tingkat nasional atau sampel sekolah khusus, guru, dan siswa pada tingkat perkembangan tertentu. Pada evaluasi sumatif, audiensinya termasuk konsumen yang potensial seperti siswa, guru, dan lain-lain yang terlibat dalam program. Evaluasi sumatif mengarah ke arah keputusan tentang kelanjutan program, berhenti atau program diteruskan, pengadopsian dan selanjutnya.
evaluasi sumatif biasanya kuantitatif, dengan menggunakan skor numerik atau nilai surat untuk menilai prestasi peserta didik.
Sebuah evaluasi sumatif (kadang-kadang disebut sebagai eksternal) adalah metode menilai nilai suatu program pada akhir kegiatan program (penjumlahan). Fokusnya adalah pada hasil.
Semua penilaian dapat sumatif (yaitu, memiliki potensi untuk melayani fungsi sumatif), tetapi hanya beberapa memiliki kemampuan tambahan untuk melayani fungsi formatif. - Scriven (1967)
Berbagai instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner, survei, wawancara, observasi, dan pengujian. Model atau metodologi yang digunakan untuk mengumpulkan data harus prosedur langkah-demi-langkah tertentu. Ini harus hati-hati dirancang dan dilaksanakan untuk memastikan data akurat dan valid.

a.       Tujuan Evaluasi sumatif
1.      Untuk mengukur ketercapaian program.
2.      Untuk mengetahui seberapa jauh kurikulum yang telah disusun sebelumnya memberikan hasil pada siswa antara lain mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

b.      Fungsi Evaluasi Sumatif  
1.    Menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan, pada akhir program atau pengajaran.
2.    Sebagai sarana untuk mengetahui posisi atau kedudukan individu di dalam kelompoknya.

c.       Manfaat Evaluasi Sumatif
1.      Mereka bisa, jika dirancang dengan tepat, menyediakan bukti untuk sebuah hubungan sebab-akibat.
2.      Menilai hubungan jangka panjang.
3.      Menyediakan data mengenai dampak program.

    C.     Contoh Evaluasi Formatif dan Sumatif
Contoh mudah dalam memahami evaluasi formatif dan sumatif. evaluasi formatif ibaratnya proses dalam pembuatan masakan, dimana ada proses pemasakan, proses pemotongan sayur dan proses pemberian bumbu. sedangkan evaluasi sumatif adalah proses ketika masakan itu telah disajikan dan bagaimana tiap individu menikmati masakan tersebut.