Motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang
memberikan energi bagi seseorang dan apa yang memberikan arah
bagi aktivitasnya. Motivasi kadang-kadang dibandingkan dengan mesin dan kemudi
pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadi inti dari konsep tentang
motivasi. Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse), dan
seringkali dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan
arah aktivitas manusia, misalnya minat (interest), kebutuhan (need),
nilai (value), sikap (attitude), aspirasi, dan insentif (Gage
& Berliner, 1984).
Dengan pengertian istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat
mendefinisikan motivasi belajar siswa, yaitu apa yang memberikan energi untuk
belajar bagi siswa dan apa yang memberikan arah bagi aktivitas
belajar siswa.
Secara umum, teori-teori tentang
motivasi dapat dikelompokkan berdasarkan sudut pandangnya, yaitu behavioral,
cognitive, psychoanalytic, humanistic, social learning,
dan social cognition.
1. Teori-teori Behavioral
Robert M. Yerkes dan J.D. Dodson,
pada tahun 1908 menyampaikan Optimal Arousal Theory atau teori tentang
tingkat motivasi optimal, yang menggambarkan hubungan empiris antara rangsangan
(arousal) dan kinerja (performance). Teori ini menyatakan bahwa
kinerja meningkat sesuai dengan rangsangan tetapi hanya sampai pada titik
tertentu; ketika tingkat rangsangan menjadi terlalu tinggi, kinerja justru
menurun, sehingga disimpulkan terdapat rangsangan optimal untuk suatu aktivitas
tertentu (Yerkes & Dodson, 1908).
Pada tahun 1943, Clark Hull
mengemukakan Drive Reduction Theory yang menyatakan bahwa kebutuhan
biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi
sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun
hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang muncul
mungkin bermacam-macam bentuknya (Budiningsih, 2005). Masih menurut Hull, suatu
kebutuhan biologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive)
untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan
kemungkinan bahwa makhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi
kebutuhan (need reduction response). Menurut teori Hull, dorongan (motivators
of performance) dan reinforcement bekerja bersama-sama untuk
membantu makhluk hidup mendapatkan respon yang sesuai (Wortman, 2004). Lebih
jauh Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan matematis antara drive
(energi) dan habit (arah) sebagai penentu dari behaviour
(perilaku) dalam bentuk:
Behaviour = Drive × Habit
Karena hubungan dalam persamaan
tersebut berbentuk perkalian, maka ketika drive = 0, makhluk hidup tidak
akan bereaksi sama sekali, walaupun habit yang diberikan sangat kuat dan
jelas (Berliner & Calfee, 1996).
Pada periode 1935 - 1960, Kurt Lewin
mengajukan Field Theory yang dipengaruhi oleh prinsip dasar psikologi
Gestalt. Lewin menyatakan bahwa perilaku ditentukan baik oleh person (P)
maupun oleh environment (E):
Behaviour = f(P, E)
Menurut Lewin, besar gaya
motivasional pada seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai dengan
lingkungannya ditentukan oleh tiga faktor: tension (t) atau besar
kecilnya kebutuhan, valensi (G ) atau sifat objek tujuan, dan jarak psikologis
orang tersebut dari tujuan (e).
Force = f(t, G)/e
Dalam persamaan Lewin di atas, jarak
psikologis berbanding terbalik dengan besar gaya (motivasi), sehingga semakin
dekat seseorang dengan tujuannya, semakin besar gaya motivasinya. Sebagai
contoh, seorang pelari yang sudah kelelahan melakukan sprint ketika ia
melihat atau mendekati garis finish. Teori Lewin memandang motivasi sebagai tension
yang menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuannya dari jarak psikologis yang
bervariasi (Berliner & Calfee, 1996).